Catatan Pribadi · Refleksi
Telah Usai
Entah ini kemenangan atau bukan — aku sendiri tidak tahu harus menyebutnya apa.
Yang kutahu, aku telah memahaminya sekarang.
Ia datang padaku ketika dunianya masih sunyi. Belum ada jabatan, belum ada atmosfer baru, belum ada cermin yang memantulkan versi dirinya yang sekarang. Aku yang menyapihnya — menemaninya berdiri, meyakinkannya bahwa ia mampu, mengisi celah-celah yang kosong dengan kehadiranku. Bukan karena terpaksa. Tapi karena aku percaya bahwa cinta memang begitu cara kerjanya.
Dan untuk waktu yang lama, aku pikir aku tidak salah.
Tapi ada fakta yang menyakitkan dalam sebuah hubungan — ketika seseorang naik ke atmosfer yang berbeda, kadang kesederhanaan yang dulu menjadi fondasi kita ikut tertinggal di bawah. Seperti tombol reset yang ditekan diam-diam, tanpa pamit.
Gengsi tumbuh. Standar bergeser. Dan aku yang terbiasa menabung dari hasil kerja bertahun-tahun — tiba-tiba merasa seperti angka yang tidak cukup besar di matanya.
"Emangnya mau nikah udah nyiapin apa?"
Kalimat itu meluncur dengan nada culas yang aku tidak akan mudah lupa. Dan aku terdiam — bukan karena tidak punya jawaban, tapi karena aku tidak menyangka pertanyaan itu yang keluar. Saat Aku Berulang kali mempertanyaan tentang keseriusan hubungan .
Aku merenung keras. Mempertanyakan semuanya. Hampir enam tahun — apakah selama ini aku hanya mengisi peran yang dibutuhkan, lalu ditinggal ketika perannya sudah selesai?
Mungkin memang cukup miskin aku — dalam hal memenuhi gaya hidup yang ia akui sendiri sedang ia kejar. Tapi aku hidup bukan untuk itu. Dan mungkin di situ letak jarak yang sesungguhnya — bukan soal uang, bukan soal jabatan. Tapi soal nilai yang sudah tidak lagi bicara bahasa yang sama.
Untuk menikah, apakah cinta saja tidak cukup?
Aku tidak tahu. Tapi aku tahu satu hal — yang tulus, selama ini, hanya aku.
Ada yang bilang — pohon paling tinggi adalah yang paling keras diterpa angin. Tapi ada yang lupa bertanya: siapa yang menanam benihnya, menyiraminya di musim kering, dan berdiri di sampingnya sebelum ia tahu caranya tumbuh?
Aku tidak menyesal menjadi tanah itu.
Yang kusesali hanyalah — ia pergi tanpa pernah menoleh ke bawah, ke tempat akarnya pertama kali belajar mencengkeram bumi.
Maka biarlah. Beberapa hal dalam hidup memang tidak dirancang untuk adil — hanya dirancang untuk mengajarkan.
Dan pelajaran yang paling mahal selalu dibayar dengan waktu yang tidak bisa dikembalikan.