// ACCESS GRANTED //

YOU FOUND THE SECRET — WELCOME TO THE MAINFRAME

[ PRESS ANY KEY TO EXIT ]

Home About Contact Project
Zettophia.WIDGETS
TERMINAL
zetophia@sys:~$ neofetch --short
○ OS: Zettophia.SYS v4.2
○ Uptime: calculating...
○ Posts: 11 | Status: ONLINE
zetophia@sys:~$ █
DASHBOARD
11
Posts
0
Views
00:00
Local
OK
Online
NOW PLAYING
Kids on the Beach
Sergio Caragliano
0:000:00
SYSTEM LOG
"The future is already here — it's just not evenly distributed."
— William Gibson
MICROBLOG
[2026.05.29]
Thinking about the line between building tools and becoming one.
#reflections
[2026.05.28]
11 posts live. Blog is evolving. Cyberpunk isn't just aesthetics — it's a mindset.
#zettophia
[2026.05.27]
New theme deployed. Custom cursor, scanlines, boot splash. Every pixel intentional.
#dev
LOG_DATA // Selasa, 09 Juni 2026

END

Catatan  /  Personal

Lima Tahun yang Mengajarkan Segalanya

Ditulis oleh Zetophia  ·  2025

Ada orang-orang yang datang ke dalam hidupmu bukan karena takdir menaruh mereka di sana, melainkan karena kamu sendiri yang membuka pintu — lalu lupa menutupnya.

Ia tahu sejak awal bahwa langkahnya itu salah. Dia bukan orang asing, tapi juga bukan orang yang seharusnya ia dekati — ia adalah mantan dari seseorang yang ia sayangi seperti adik kandung sendiri. Hubungan itu sudah selesai, sudah ditutup rapat sejak masa SMA, dan seharusnya ia cukup berdiri di belakang garis itu.

Tapi ia tidak melakukannya.

Ia mendekat dengan alasan yang ia sebut penasaran, padahal di baliknya ada sesuatu yang lebih gelap dari itu — dorongan yang tidak ia beri nama, yang ia biarkan membawanya melangkah melewati batas yang seharusnya ia jaga. Belakangan, ia menyebutnya sendiri tanpa banyak basa-basi: superhero kesiangan. Hadir di tempat yang salah, di waktu yang salah, dengan niat yang bahkan ia sendiri tidak sepenuhnya yakin.

· · ·

Dia berasal dari seberang kota. Ketika ia memutuskan kuliah di sini, di kota tempat lelaki itu tinggal, ada kejadian di antara keduanya — sesuatu yang tidak perlu dirinci, tapi yang cukup besar untuk membuat lelaki itu merasa bahwa ia berutang sesuatu. Bukan utang materi. Utang kehadiran.

Maka ia hadir. Bukan sekadar sesekali, tapi sungguh-sungguh hadir — mengurus pendaftaran kuliah, menemani mencari kosan, memastikan setiap hari baru di kota yang asing itu tidak terasa terlalu berat. Ia membingkainya sebagai tanggung jawab, dan mungkin memang begitu. Tapi di balik tanggung jawab itu, perasaan sudah terlanjur tumbuh, dan ia memilih untuk tidak mempertanyakannya.

Tahun-tahun awal berjalan dengan warnanya sendiri. Manis, penuh, kadang kacau. Ada perselingkuhan yang terjadi — dari satu arah, lalu dibalas dari arah lain, sakit ditukar sakit sampai keduanya tidak tahu lagi siapa yang mulai. Tapi di antara semua kekacauan itu, ada juga pendewasaan. Ada hal-hal tentang dunia dan tentang dirinya sendiri yang tidak akan ia pelajari dengan cara lain. Ia ada di setiap semester, setiap pergantian kosan, setiap malam menjelang ujian yang panjang. Dan ia menyaksikan dia tumbuh — dari mahasiswa baru yang baru pertama kali mengenal kota orang, hingga hari ia berdiri di panggung wisuda dengan toga di bahunya.

Energi, waktu, materi. Semuanya mengalir tanpa ia hitung. Karena begitulah cara ia mencintai — penuh, dan sering kali tanpa bertanya apakah ia akan mendapat itu kembali.

· · ·

Menjelang wisuda, untuk pertama kalinya ia mulai berpikir serius tentang masa depan hubungan ini.

Ia bukan sarjana. Ia bukan orang dengan karir yang cemerlang atau rekening yang bisa dibanggakan. Ia hanya seorang laki-laki biasa dengan gaji yang tidak besar, yang bekerja dengan tubuhnya lebih banyak daripada dengan gelar. Tapi ia ingin menunjukkan bahwa ia tidak main-main — bahwa lima tahun ini bukan sekadar kebersamaan tanpa arah. Maka ia mulai belajar soal investasi, hal kecil yang ia coba kuasai pelan-pelan, dan akhirnya memberanikan diri mengambil cicilan emas batangan. Sepuluh gram. Kecil, dicicil, dipaksakan dari kantong yang tidak pernah benar-benar longgar. Tapi baginya itu bukan soal beratnya — itu soal pesan yang ingin ia sampaikan tanpa kata-kata: aku membangun sesuatu, dan kamu adalah alasannya.

Wisuda tiba. Ia menyaksikan semuanya dari jarak yang tidak terlalu jauh. Dan untuk sesaat yang singkat, terasa seperti semua yang telah ia berikan memiliki tempatnya yang layak.

· · ·

Setelah wisuda, dia mulai bekerja. Dan lelaki itu masih berusaha, dengan cara yang berbeda kali ini.

Selama ini, ia merasa ada satu hal yang selalu mengganjal — mobilitas. Jarak ke kota seberang tidak dekat, dan setiap kali mengantarnya pulang dengan motor matic tua yang ia punya, ada rasa kurang yang sulit ia ungkapkan. Maka ia beli motor baru. Bukan karena ia membutuhkan motor itu untuk dirinya sendiri, tapi karena dalam kepalanya ada alasan yang sederhana dan jelas: supaya tidak ada lagi alasan soal jarak. Supaya ia bisa pulang kapan saja, dan aku bisa mengantarnya.

Untuk beberapa bulan, itu berhasil. Ada kenyamanan yang datang, ada kebiasaan baru yang terasa seperti sebuah babak baru. Mereka bisa pergi lebih jauh, lebih bebas, dan lelaki itu merasa seperti ada celah lama yang akhirnya tertutup.

Tapi di saat yang bersamaan, jauh di bawah permukaan semua itu, ada yang mulai berubah.

Respons yang datang sedikit lebih lambat. Nada yang sedikit lebih datar. Perhatian yang sedikit lebih tipis. Perubahan-perubahan kecil yang tidak cukup besar untuk dijadikan bukti, tapi cukup terasa untuk membuat seseorang yang jeli menjadi gelisah. Lelaki itu memilih untuk tidak mempercayai perasaannya — ia pikir mungkin ia yang terlalu sensitif, mungkin dia hanya lelah dengan ritme kerja yang baru.

Tiga bulan. Hanya tiga bulan setelah ia mulai bekerja, dan jarak itu sudah tidak bisa lagi diabaikan. Bukan jarak antar kota — melainkan jarak yang jauh lebih melelahkan: jarak antara dua orang yang berbagi nama hubungan, tapi tidak lagi berbagi usaha yang sama.

· · ·

Lalu Januari datang, dan membawa malam yang tidak mereka rencanakan.

Mereka mengalami kecelakaan. Motor baru itu rusak. Tubuh keduanya selamat — hanya lecet-lecet kecil yang sembuh dalam beberapa hari — tapi ada sesuatu yang lain yang retak malam itu, sesuatu yang tidak bisa sembuh hanya dengan obat merah dan perban.

Ia kembali ke motor matic birunya yang lama. Kurang nyaman, kurang cocok untuk perjalanan jauh. Intensitas mengantarnya berkurang, dan bersamaan dengan itu, kehadiran mereka satu sama lain juga menipis. Lalu di kepalanya, pertanyaan-pertanyaan yang selama ini ia pendam dengan sabar mulai naik ke permukaan satu per satu, tidak minta izin:

Apa aku ini sebenarnya hanya tukang antar?

Kalau motornya tidak ada, apa yang tersisa dari hubungan ini?

Dari tadi, sesungguhnya apa yang ia cari dariku?

Tidak ada yang menjawab. Pertanyaan-pertanyaan itu hanya mengendap, dan mengendap lebih dalam tiap harinya.

· · ·

Pertengkaran besar akhirnya terjadi — ledakan dari tekanan yang sudah terlalu lama ditahan. Di tengah ribut itu, dia menghubungi sahabat lelaki tersebut — sebut saja Aguan, orang yang sudah ia kenal cukup lama dan yang punya cara bertanya yang selalu menembus ke inti persoalan. Dia meminta diantarkan, dan meminta kerahasiaan.

Dalam perjalanan itu, Aguan bertanya dengan caranya yang santai namun tajam:

"Apa sih yang bikin lo mau sama dia?"

"Ya... dia cukup berguna buat masa kuliah gue."

Lelaki itu mendengar cerita itu jauh belakangan. Dan kalimat itu — pendek, ringan, seolah diucapkan tanpa beban — tidak langsung menghancurkan sesuatu dalam dirinya. Ia hanya menetap. Mengendap di tempat yang dalam dan sempit, seperti benda kecil yang jatuh ke celah lantai dan tidak bisa diambil lagi. Kalimat itu hanya mengkonfirmasi apa yang sudah lama ia curigai tapi tidak mau akui.

Namun bukan kalimat itulah yang akhirnya membuatnya benar-benar mendidih.

Yang membuatnya hampir kehilangan kendali adalah cara dia berbicara padanya dalam hari-hari setelahnya — ketika segala sesuatu sudah terasa seperti kelelahan yang berlarut dan tidak ada lagi yang mau berpura-pura baik-baik saja. Dingin. Sangat singkat. Judes dengan cara yang terasa disengaja. Seperti berbicara kepada seseorang yang baru dikenal di jalan, bukan kepada orang yang telah hadir di hampir setiap momen hidupnya selama lima tahun terakhir. Seperti semua itu — semua waktu, semua pengorbanan, semua kehadiran — tidak pernah ada.

Amarah itu naik ke titik yang membahayakan. Ada sesaat di mana ia benar-benar hampir melakukan sesuatu yang tidak akan bisa ia tarik kembali seumur hidup.

· · ·

Tapi semesta, atau apapun yang mengendalikan kebetulan-kebetulan kecil dalam hidup, menaruh seseorang di depannya tepat di momen yang paling genting.

Malam setelah semuanya memuncak, ia mampir ke sebuah rumah. Di depannya, duduk seorang anak muda — adik dari sahabatnya, yang selama ini ia kenal tapi tidak pernah benar-benar ngobrol panjang. Sedang main game, seperti malam-malam biasanya. Tidak ada niat apapun dari lelaki itu selain sekadar lewat.

Tapi percakapan itu mengalir begitu saja, pelan dan tanpa direncanakan, sampai keduanya tidak sadar sudah duduk cukup lama dan menyentuh hal-hal yang berat. Tentang hidup. Tentang cara orang-orang menanggung sesuatu yang terlalu besar. Tentang bagaimana seseorang tetap bisa berdiri setelah jatuh. Amarah yang tadi memenuhi seluruh rongga dadanya perlahan turun — bukan karena luka itu hilang, tapi karena untuk pertama kalinya malam itu, ia merasa didengar oleh seseorang yang tidak punya kepentingan apapun selain sekadar hadir.

Dan itu cukup. Malam itu, hanya itu saja sudah cukup.

· · ·

Waktu bergerak, seperti yang selalu ia lakukan tanpa menunggu siapapun.

Ia bercerita ke keluarga. Ke teman-teman yang sudah sejak lama mencoba mengingatkannya tentang hal-hal yang ia abaikan. Bahkan ke kakak si mantan — yang ternyata menjadi salah satu yang paling tulus berdiri di sisinya. Semua hadir tanpa diminta, dan dari sana, perlahan, ada sesuatu dalam dirinya yang mulai mau hidup lagi.

Ia menulis ini bukan karena merasa kisahnya adalah yang paling berat. Di luar sana selalu ada yang menanggung lebih — luka yang lebih dalam, kehilangan yang lebih tak terperi. Ia menulis karena ini satu-satunya cara yang ia tahu untuk berdamai dengan sesuatu yang sudah terlanjur terjadi. Karena katanya, menulis itu terapi. Dan mungkin memang begitu.

Lima tahun. Seperlima dari usianya saat kalimat ini ditulis.

Ia tidak menyesal pernah menjalaninya — karena di dalamnya ada hal-hal yang membentuk dirinya menjadi versi yang lebih tahu. Tapi ia juga tidak akan pura-pura bahwa semua yang telah ia berikan itu tidak terasa seperti kehilangan. Energi. Waktu. Materi. Semua sudah pergi, dan yang tinggal hanyalah pelajaran yang harganya tidak bisa dibilang murah.

Kalau boleh ia meninggalkan satu catatan untuk siapapun yang membaca ini:

Kalau pondasinya salah sejak awal, jangan kaget kalau atapnya runtuh. Dan jangan pernah habiskan dirimu untuk membangun rumah di atas tanah yang tidak pernah sungguh-sungguh mengundangmu.

Kepada semua orang yang masih ada — yang sejak dulu sudah mencoba bicara, yang bertahan meski ia tidak selalu mendengarkan — terima kasih. Mungkin kalau dulu ia lebih mau mendengar, jalan ini tidak perlu sepanjang ini. Tapi begitulah adanya: ada hal-hal yang hanya bisa diajarkan oleh pengalaman. Tidak oleh nasihat, tidak oleh peringatan, hanya oleh rasa sakitnya sendiri.

Stay have fun. Bahagiakan orang tuamu. Bahagiakan dirimu sendiri.

Wassalamualaikum.